LogoTes Kepribadian Big Five
  • Ikuti Tes
  • Big Five vs MBTI
  • Tes OCEAN
  • Blog
LogoTes Kepribadian Big Five

Temukan kepribadian Anda dengan tes Big Five yang teruji secara ilmiah

Email
OpenHunts Club MemberListed on CurlShip
Tes
  • Ikuti Tes
  • FAQ
Pelajari
  • Ringkasan Big Five
  • Keterbukaan
  • Kehati-hatian
  • Ekstraversi
  • Keramahan
  • Neurotisisme
  • Big Five vs MBTI
  • Tes OCEAN
  • Interpretasi Skor
  • Reliabilitas Tes
  • Blog
Tentang
  • Tentang Kami
  • Kontak
Hukum
  • Kebijakan Privasi
  • Ketentuan Layanan
  • Kebijakan Cookie
  • Penafian
© 2026 Tes Kepribadian Big Five Seluruh Hak Cipta Dilindungi.
Dimensi Kepribadian Big Five/Keterbukaan terhadap Pengalaman
O

Keterbukaan terhadap Pengalaman

Keterbukaan terhadap Pengalaman adalah dimensi Big Five yang menangkap rasa ingin tahu, kreativitas, dan kesediaan menjelajah. Ini adalah dimensi dengan tingkat keturunan tertinggi di antara kelimanya, prediktor terkuat untuk pencapaian kreatif, dan — uniknya — satu-satunya dimensi Big Five yang pada dasarnya tidak berkaitan dengan diagnosis psikiatri. Panduan ini mencakup semua yang penelitian ungkapkan tentang Keterbukaan.

Ilustrasi dimensi Big Five Keterbukaan terhadap Pengalaman: sosok penuh rasa ingin tahu membuka pintu menuju lanskap berbintang, melambangkan keingintahuan dan penjelajahan.

Dalam Panduan Ini

  1. 1. Apa Itu Keterbukaan terhadap Pengalaman?
  2. 2. Enam Faset Keterbukaan
  3. 3. Keterbukaan Tinggi vs. Rendah
  4. 4. Keterbukaan dan Kreativitas
  5. 5. Keterbukaan di Tempat Kerja
  6. 6. Keterbukaan dalam Hubungan
  7. 7. Keterbukaan dan Kesehatan Mental
  8. 8. Keterbukaan, Penuaan Kognitif, dan Otak
  9. 9. Genetika dan Faktor Keturunan
  10. 10. Bisakah Anda Mengubah Keterbukaan Anda?
  11. Referensi

Apa Itu Keterbukaan terhadap Pengalaman?

Keterbukaan terhadap Pengalaman mencerminkan kedalaman, kompleksitas, dan kualitas kehidupan mental serta pengalaman seseorang. Orang dengan Keterbukaan tinggi tertarik pada hal baru, keindahan, dan gagasan abstrak. Mereka yang lebih rendah dalam Keterbukaan lebih menyukai hal yang familier, praktis, dan konkret.

Di antara dimensi Big Five, Keterbukaan memiliki dasar neurobiologis yang unik. Penelitian mengaitkannya dengan sistem dopaminergik — sirkuit penghargaan di otak. Colin DeYoung dan rekan-rekannya menemukan bahwa pelepasan dopamin, yang dipicu oleh hal baru dan isyarat potensi penghargaan, mendorong perilaku menjelajah yang khas pada Keterbukaan tinggi.[1] Aktivitas di korteks prefrontal dorsolateral — area otak yang terlibat dalam memori kerja dan penalaran abstrak — juga dikaitkan dengan skor Keterbukaan yang lebih tinggi.

Keterbukaan juga berkorelasi dengan kecerdasan lebih kuat daripada dimensi Big Five lainnya, terutama kecerdasan verbal dan terkristalisasi (r = 0,44).[2] Namun Keterbukaan dan kecerdasan adalah konstruk yang berbeda — Keterbukaan mencerminkan motivasi untuk menjelajah, sedangkan kecerdasan mencerminkan kemampuan mengolah informasi.

Enam Faset Keterbukaan

Keterbukaan bukanlah dimensi tunggal yang monolitik. NEO PI-R karya Costa dan McCrae memecahnya menjadi enam faset berbeda, yang mengelompok ke dalam dua kelompok[3]:

Kelompok 1: Estetis / Pengalaman

Faset-faset ini berkaitan dengan penghayatan, kedalaman emosi, dan kepekaan persepsi.

Fantasi

Imajinasi yang hidup dan kehidupan batin yang kaya. Mereka yang berskor tinggi memiliki dunia khayal yang aktif dan memakai imajinasi sebagai sumber kreativitas serta kesenangan. Erat kaitannya dengan melamun dan pemunculan gagasan kreatif.

Estetika

Apresiasi mendalam terhadap seni, musik, puisi, dan keindahan — terlepas dari bakat artistik. Mereka yang berskor tinggi tersentuh oleh matahari terbenam, sepotong musik, atau sebuah pembuktian matematis yang elegan.

Perasaan

Kepekaan terhadap emosi diri sendiri. Mereka yang berskor tinggi menghargai pengalaman emosional sebagai bagian penting hidup, dan merasakan emosi positif maupun negatif secara lebih dalam.

Kelompok 2: Intelektual / Penjelajahan

Faset-faset ini berkaitan dengan rasa ingin tahu intelektual dan keluwesan perilaku. DeYoung menyebut kelompok ini sebagai "Intelek" — berbeda dari sisi estetis Keterbukaan.

Gagasan

Rasa ingin tahu intelektual dan pengejaran aktif akan pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri. Mereka yang berskor tinggi menikmati diskusi filosofis, teka-teki, dan penjelajahan konsep abstrak. Faset ini secara khusus memprediksi kecerdasan cair.

Tindakan

Kesediaan mencoba aktivitas baru, mengunjungi tempat baru, dan menyantap makanan yang belum dikenal. Mereka yang berskor tinggi lebih menyukai hal baru daripada rutinitas dan mencari pengalaman yang beragam.

Nilai

Kesiapan meninjau ulang nilai-nilai sosial, politik, dan keagamaan. Mereka yang berskor tinggi mempertanyakan otoritas dan kelaziman; yang berskor rendah lebih memihak tradisi dan tatanan yang mapan.

Keterbukaan Tinggi vs. Rendah

Baik Keterbukaan tinggi maupun rendah tidak ada yang secara inheren lebih baik — masing-masing membawa kekuatan dan tantangannya sendiri.

Keterbukaan Tinggi

  • +Imajinatif, dengan dunia batin yang kaya
  • +Penasaran secara intelektual — menyukai belajar demi belajar itu sendiri
  • +Menghargai seni, keindahan, dan estetika
  • +Nyaman dengan ketidakjelasan dan kompleksitas
  • +Mempertanyakan kelaziman dan mencari alternatif
  • +Merangkul perubahan dan pengalaman baru
  • !Mungkin kesulitan dengan rutinitas dan menuntaskan sesuatu
  • !Bisa sulit berkomitmen pada satu jalur

Keterbukaan Rendah

  • +Praktis, konkret, dan berorientasi hasil
  • +Menemukan kenyamanan dan kekuatan dalam rutinitas
  • +Fokus — tidak mudah teralih oleh gagasan sampingan
  • +Menguasai keterampilan tertentu lewat latihan yang konsisten
  • +Menghargai tradisi, stabilitas, dan metode yang sudah mapan
  • +Menjadi penyeimbang yang membumi dalam tim
  • !Mungkin menolak perubahan meski menguntungkan
  • !Bisa melewatkan solusi kreatif atas suatu masalah

Keterbukaan dan Kreativitas

Keterbukaan adalah dimensi Big Five yang paling konsisten dan paling kuat dikaitkan dengan kreativitas. Keterkaitan ini telah terdokumentasi di berbagai tradisi penelitian.

Analisis meta Feist tahun 1998 — sintesis besar pertama atas penelitian kepribadian dan kreativitas — menemukan bahwa Keterbukaan memiliki ukuran efek paling kuat dan paling konsisten, baik pada pencapaian kreatif di bidang seni maupun ilmiah. Individu kreatif berskor jauh lebih tinggi pada Keterbukaan dibanding individu yang tidak kreatif, terlepas dari bidangnya.[4]

Kaufman dkk. (2015) meneliti 1.035 partisipan pada empat sampel yang beragam secara demografis dan membuat pembedaan penting: Keterbukaan (faset estetis/pengalaman) memprediksi pencapaian kreatif di bidang seni, sedangkan Intelek (faset intelektual/penjelajahan) memprediksi pencapaian kreatif di bidang ilmu pengetahuan.[5]

Sebuah analisis meta terbaru menegaskan adanya hubungan signifikan antara pemikiran divergen — kemampuan menghasilkan banyak gagasan berbeda — dan Keterbukaan (r = 0,20, IK 95% [0,18, 0,22]).[6]

Poin Utama

Seniman, musisi, dan ilmuwan profesional semuanya berskor lebih tinggi pada Keterbukaan dibanding populasi umum. Tetapi fasetnya penting: jika Anda tinggi pada Fantasi dan Estetika, kreativitas Anda kemungkinan mengalir ke arah seni. Jika Anda tinggi pada Gagasan, kreativitas itu mungkin tersalur lewat pengejaran ilmiah atau intelektual.

Keterbukaan di Tempat Kerja

Berbeda dengan Kehati-hatian — yang memprediksi kinerja kerja secara universal — implikasi karier dari Keterbukaan lebih bergantung pada konteks.

Analisis meta Barrick dan Mount tahun 1991 menemukan bahwa Keterbukaan adalah prediktor yang valid untuk kemampuan menyerap pelatihan di berbagai pekerjaan — individu yang terbuka belajar lebih cepat dan lebih mudah menyerap informasi baru.[7] Namun ia bukan prediktor umum yang kuat untuk kinerja kerja sehari-hari.

Gambarannya berubah seiring waktu. Penelitian menunjukkan individu yang terbuka mungkin tidak langsung mengungguli rekan kerjanya saat baru memulai pekerjaan, tetapi kinerja mereka meningkat lebih besar dalam jangka panjang seiring mereka memperoleh lebih banyak pengetahuan kerja dan merespons lingkungan kerja secara lebih adaptif.[8]

Karier Keterbukaan TinggiKarier Keterbukaan Rendah
Peneliti / IlmuwanAkuntan / Auditor
Desainer (UX, Grafis, Produk)Manajer Operasional
Penulis / JurnalisAdministrator Basis Data
Wirausahawan / Pendiri RintisanPetugas Kepatuhan
Ahli Strategi PemasaranSpesialis Penjaminan Mutu
Psikolog / TerapisKoordinator Logistik

Penelitian terbaru oleh Wright (2025) menemukan bahwa Keterbukaan sangat berharga dalam lingkungan kerja jarak jauh, di mana kemampuan mengarahkan diri sendiri, beradaptasi dengan situasi baru, dan tetap fokus tanpa struktur eksternal menjadi sangat penting.[9]

Keterbukaan dalam Hubungan

Keterbukaan memengaruhi hubungan dengan cara yang halus dan kadang terasa paradoks.

Studi potong lintang menunjukkan korelasi kecil namun positif antara Keterbukaan dan kepuasan hubungan (ρ = 0,10).[10] Pasangan yang keduanya tinggi dalam Keterbukaan cenderung terikat lewat penjelajahan bersama — perjalanan, kuliner baru, diskusi intelektual, proyek kreatif.

Namun penelitian longitudinal mengungkap gambaran yang lebih rumit. Dalam rentang waktu yang lebih panjang, Keterbukaan bisa berhubungan negatif dengan kepuasan hubungan pasangan.[10] Alasannya kemungkinan: kebutuhan akan hal baru yang terus-menerus dapat menciptakan ketidakstabilan. Pasangan yang sangat terbuka bisa menjadi gelisah dengan rutinitas yang justru menjadi sandaran hubungan itu.

Dinamika Pasangan Berdasarkan Keterbukaan

Tinggi + Tinggi: Hubungan yang kaya dan penuh petualangan dengan penjelajahan intelektual serta pengalaman bersama. Risiko: kurang stabil, keduanya terus-menerus mencari hal berikutnya.

Tinggi + Rendah: Saling melengkapi jika keduanya menghormati perbedaan. Pasangan yang terbuka membawa hal baru; pasangan yang membumi membawa konsistensi. Konflik muncul ketika yang satu merasa bosan dan yang lain merasa terguncang.

Rendah + Rendah: Kemitraan yang stabil dan mudah ditebak, dibangun atas rutinitas dan nilai bersama. Keduanya tahu apa yang akan terjadi. Risiko: bisa menjadi mandek jika tak ada yang memulai pertumbuhan.

Keterbukaan dan Kesehatan Mental

Keterbukaan memiliki hubungan yang unik dan paradoks dengan kesehatan mental, yang membedakannya dari dimensi Big Five lainnya.

Temuan yang mengejutkan: Bukti meta-analitik menunjukkan bahwa Keterbukaan adalah satu-satunya dimensi Big Five yang pada dasarnya tidak berkaitan dengan diagnosis psikiatri. Berbeda dengan Neurotisisme (yang kuat memprediksi kecemasan dan depresi) atau Kehati-hatian rendah (terkait gangguan penyalahgunaan zat), kelompok yang memiliki diagnosis tidak berbeda dari kelompok kontrol sehat dalam hal Keterbukaan.[11]

Namun gambarannya lebih rumit daripada sekadar "Keterbukaan itu netral bagi kesehatan mental". Penelitian mengisyaratkan sifat bermata dua:

  • Sisi protektif: Orang dengan Keterbukaan tinggi aktif mencari aktivitas dan pengalaman baru, yang menjadi penyangga terhadap depresi. Kecenderungan mereka mencoba strategi penanganan baru dan kesediaan mencari terapi saat dibutuhkan bisa bersifat melindungi.
  • Sisi rentan: Peristiwa hidup yang sangat menekan dapat meningkatkan Keterbukaan, yang berkaitan dengan pertumbuhan intelektual sekaligus meningkatnya kerentanan terhadap sejumlah pengalaman psikopatologis — pengalaman persepsi yang tidak lazim, penghayatan mendalam, dan kecenderungan tenggelam dalam fantasi.[11]

Dalam konteks kerja, Keterbukaan terbukti menjadi penyangga terhadap dampak kesehatan mental akibat pengucilan dan perundungan di tempat kerja, kemungkinan karena individu yang terbuka memiliki sumber daya penanganan yang lebih beragam dan jaringan dukungan yang lebih luas.

Keterbukaan, Penuaan Kognitif, dan Otak

Salah satu temuan paling mencolok dalam penelitian Keterbukaan menyangkut hubungannya dengan penuaan kognitif — dan di sinilah dimensi ini mungkin memiliki makna praktis yang paling mendalam.

Individu dengan Keterbukaan tinggi cenderung membangun cadangan kognitif yang lebih kuat — ketahanan otak terhadap patologi. Sebuah studi longitudinal selama 13 tahun menemukan efek positif Keterbukaan terhadap penuaan kognitif pada orang dewasa paruh baya dan lanjut usia.[12] Keterbukaan yang lebih tinggi dikaitkan dengan kinerja yang jauh lebih baik pada semua tes kognitif, bahkan setelah disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan penyakit kardiovaskular.

Mekanismenya tampaknya adalah keterlibatan dalam aktivitas: individu yang terbuka mempertahankan lebih banyak kegiatan yang merangsang intelektual sepanjang hidup — membaca, mempelajari keterampilan baru, bersentuhan dengan seni dan gagasan — yang membangun cadangan kognitif yang melindungi dari penurunan. Penelitian menunjukkan cadangan kognitif menjadi perantara hubungan antara Keterbukaan dan penurunan fungsi eksekutif yang lebih kecil.[13]

Sebaliknya, Keterbukaan yang rendah pada usia dewasa akhir dikaitkan dengan fungsi kognitif yang lebih buruk dan meningkatnya risiko demensia.

Sebuah Temuan Unik tentang Kematian

Di antara seluruh dimensi Big Five, Keterbukaan adalah satu-satunya yang perubahan kepribadiannya berkorelasi dengan usia saat meninggal. Menurunnya Keterbukaan mungkin mencerminkan perubahan orientasi tujuan akibat menyempitnya horizon waktu — saat seseorang mendekati akhir hidup, mereka mempersempit fokus pada hal-hal yang paling familier dan bermakna.[14]

Genetika dan Faktor Keturunan

Keterbukaan adalah dimensi Big Five dengan tingkat keturunan tertinggi. Analisis meta Bouchard dan McGue tahun 2003 atas empat studi kembar menemukan rata-rata tingkat keturunan sebesar 57% — jauh lebih tinggi daripada kisaran 40–50% yang umum untuk dimensi kepribadian lain.[15]

Ini mungkin terdengar berlawanan dengan dugaan — banyak orang mengira rasa ingin tahu dan keterbukaan pikiran itu dipelajari, bukan bawaan. Tetapi bukti genetiknya konsisten: studi kembar oleh Jang, Livesley, dan Vernon (1996) menemukan pengaruh genetik yang substansial pada Keterbukaan dengan sedikit sekali bukti adanya pengaruh lingkungan pengasuhan bersama.[16] Dengan kata lain, tumbuh dalam keluarga yang sama tidak membuat saudara kandung menjadi lebih mirip dalam hal Keterbukaan di luar kesamaan genetik mereka.

Pada tingkat molekuler, variasi genetik pada sistem dopamin prefrontal secara khusus memprediksi Keterbukaan/Intelek, memberikan jalur biologis dari gen menuju perilaku menjelajah yang mendefinisikan dimensi ini.[1]

Bisakah Anda Mengubah Keterbukaan Anda?

Bisa, meski Keterbukaan mengikuti lintasan yang berbeda dari kebanyakan dimensi Big Five. Analisis meta Roberts, Walton, dan Viechtbauer tahun 2006 atas 92 sampel longitudinal menemukan bahwa Keterbukaan meningkat pada masa remaja, memuncak sekitar usia 21, lalu menurun perlahan setelah usia 40–50.[17]

Berbeda dengan Kehati-hatian dan Keramahan — yang meningkat stabil mengikuti "prinsip kematangan" — Keterbukaan bergerak ke arah sebaliknya pada tahap akhir kehidupan. Ini mungkin mencerminkan penyempitan fokus yang alami menuju hal-hal yang familier dan bermakna.

Namun upaya yang disengaja dapat meningkatkan Keterbukaan pada usia berapa pun:

  • ‣Bepergian ke tempat yang belum dikenal dan bersentuhan dengan budaya yang berbeda
  • ‣Mempelajari keterampilan baru di luar zona nyaman Anda (alat musik, bahasa, kerajinan)
  • ‣Membaca secara luas lintas genre dan disiplin yang biasanya Anda hindari
  • ‣Melatih kesadaran penuh dan meditasi — beberapa studi menunjukkan keduanya meningkatkan Keterbukaan
  • ‣Bersentuhan dengan seni: mengunjungi galeri, menonton konser, membaca puisi
  • ‣Berbincang dengan orang yang pandangannya sangat berbeda dari Anda
  • ‣Rutin mencoba makanan, aktivitas, dan kebiasaan baru

Mengingat penelitian tentang penuaan kognitif, mempertahankan atau meningkatkan Keterbukaan pada usia paruh baya dan sesudahnya mungkin memberi manfaat kesehatan yang nyata — membangun cadangan kognitif yang melindungi dari penurunan.

Berapa Skor Keterbukaan Anda?

Tes Big Five gratis kami mengukur Keterbukaan Anda bersama empat dimensi lainnya menggunakan kuesioner IPIP-50 yang teruji secara ilmiah. 50 pertanyaan, 7 menit, tanpa perlu mendaftar.

Ikuti Tes Gratis
Cara membaca skor Keterbukaan Anda
Penjelasan tentang persentil, arti rentang rendah / sedang / tinggi, dan bagaimana kombinasi dimensi mengubah interpretasinya.

Keterbukaan in Combination with Other Traits

A single trait rarely tells the whole story. How Keterbukaan interacts with your other Big Five scores shapes what it actually looks like in daily life. Here are the most meaningful pairings.

Keterbukaan × Kehati-hatian

Kehati-hatian deep dive
Spektrum dari gagasan ke hasil nyata — Keterbukaan tinggi yang dipadukan dengan Kehati-hatian tinggi menghasilkan 'penjelajah yang berdisiplin' — inovator yang benar-benar menyelesaikan karyanya. Keterbukaan tinggi dengan Kehati-hatian rendah adalah pola klasik 'banyak gagasan, sulit menuntaskan': percikan kreatif yang padam sebelum menjadi karya.

Keterbukaan × Neurotisisme

Neurotisisme deep dive
Kepekaan artistik vs. kreasi yang mantap — Keterbukaan tinggi dengan Neurotisisme tinggi sering dikaitkan dengan temperamen artistik yang peka dan intens secara emosional — pengalaman estetis yang mendalam, tetapi juga kerentanan terhadap pengalaman persepsi yang tidak lazim dan gejolak suasana hati. Keterbukaan tinggi dengan Neurotisisme rendah lebih menyerupai pencipta yang tenang, penasaran, dan mantap.
Read more about reading your full profile

Jelajahi Dimensi Lainnya

K
Kehati-hatian
E
Ekstraversi
K
Keramahan
N
Neurotisisme

Referensi

  1. [1] DeYoung, C. G., Peterson, J. B., & Higgins, D. M. (2005). Sources of Openness/Intellect: Cognitive and neuropsychological correlates of the fifth factor of personality. Journal of Personality, 73(4), 825–858. See also: DeYoung, C. G. (2013). The neuromodulator of exploration: A unifying theory of the role of dopamine in personality. Frontiers in Human Neuroscience, 7, 762.
  2. [2] Schretlen, D. J., van der Hulst, E. J., Pearlson, G. D., & Gordon, B. (2010). A neuropsychological study of personality: Trait openness in relation to intelligence, fluency, and executive functioning. Journal of Clinical and Experimental Neuropsychology, 32(10), 1068–1073.
  3. [3] McCrae, R. R., & Greenberg, D. M. (2014). Openness to Experience. In D. K. Simonton (Ed.), The Wiley Handbook of Genius (pp. 222–243). Wiley.
  4. [4] Feist, G. J. (1998). A meta-analysis of personality in scientific and artistic creativity. Personality and Social Psychology Review, 2(4), 290–309.
  5. [5] Kaufman, S. B., Quilty, L. C., Grazioplene, R. G., Hirsh, J. B., Gray, J. R., Peterson, J. B., & DeYoung, C. G. (2015). Openness to experience and intellect differentially predict creative achievement in the arts and sciences. Journal of Personality, 84(2), 248–258.
  6. [6] Lebuda, I., Karwowski, M., & Beghetto, R. A. (2023). Big Five personality traits and divergent thinking: A meta-analysis. Personality and Individual Differences, 215, 112382.
  7. [7] Barrick, M. R., & Mount, M. K. (1991). The Big Five personality dimensions and job performance: A meta-analysis. Personnel Psychology, 44(1), 1–26.
  8. [8] Thoresen, C. J., Bradley, J. C., Bliese, P. D., & Thoresen, J. D. (2004). The Big Five personality traits and individual job performance growth trajectories in maintenance and transitional job stages. Journal of Applied Psychology, 89(5), 835–853.
  9. [9] Wright, B. E. (2025). Personality and job performance in all-remote public service workforces. Canadian Public Administration. doi:10.1111/capa.70017
  10. [10] Claxton, A., O'Rourke, N., Smith, J. Z., & DeLongis, A. (2012). Personality traits and marital satisfaction within enduring relationships. Journal of Social and Personal Relationships, 29(3), 375–396.
  11. [11] Widiger, T. A., & Oltmanns, J. R. (2017). Neuroticism is a fundamental domain of personality with enormous public health implications. World Psychiatry, 16(2), 144–145. See also: Kotov, R., et al. (2010). Linking "big" personality traits to anxiety, depressive, and substance use disorders: A meta-analysis. Psychological Bulletin, 136(5), 768–821.
  12. [12] Ziegler, M., Cengia, A., Mussel, P., & Gerstorf, D. (2019). Openness as a buffer against cognitive decline: The Openness–Fluid–Crystallized–Intelligence (OFCI) model applied to late adulthood. Psychology and Aging, 34(6), 790–800.
  13. [13] Franchow, E. I., Suchy, Y., Thorgusen, S. R., & Williams, P. (2013). More than education: Openness to experience contributes to cognitive reserve in older adulthood. Journal of Aging Science, 1(2), 1–8.
  14. [14] Wagner, J., Ram, N., Smith, J., & Gerstorf, D. (2016). Personality trait development at the end of life: Antecedents and correlates of mean-level trajectories. Journal of Personality and Social Psychology, 111(3), 411–429.
  15. [15] Bouchard, T. J., & McGue, M. (2003). Genetic and environmental influences on human psychological differences. Journal of Neurobiology, 54(1), 4–45.
  16. [16] Jang, K. L., Livesley, W. J., & Vernon, P. A. (1996). Heritability of the Big Five personality dimensions and their facets: A twin study. Journal of Personality, 64(3), 577–591.
  17. [17] Roberts, B. W., Walton, K. E., & Viechtbauer, W. (2006). Patterns of mean-level change in personality traits across the life course: A meta-analysis of longitudinal studies. Psychological Bulletin, 132(1), 1–25.